Jumat, 23 Maret 2012

100 Days With You (part11)

“La, elo pernah denger nggak ada orang koma, terus roh nya itu kelepas dari tubuhnya. Terus, dia disuruh menjalankan sebuah ujian. Tapi, dia sendiri nggak tau ujiannya itu apa,” kata Lisa saat dia sedang berada dikantin sekolah bersama Lala.
“Elo ngiggau, yah?” tanya Lala heran. Cewek itu meaikkan alisnya tanda heran kepada sahabatnya. Lisa menggeleng.
“Lo pernah denger nggak?” Lisa mengulangi pertanyaan nya.
“Gue belum pernah denger, tuh. Mungkin aja ada!”
“Oh..” Lisa menyetop pembicaraan. Dia kembali meminum ek kelapanya.
“Emangnya kenapa, Lis?” tanya Lala yang heran melihat sikap sahabatnya itu.
“Ah, ngng... nggak papa, kok!” jawab Lisa boong. Lala mempercayainya.
“Kalau gitu gue cabut dulu. Mau pulang,” pamit Lala. Lisa tersenyum dan melambaikan tangannya.
***
Lisa melangkahkan kaki menuju halte bus seperti biasanya. Dia memikirkan Farel akhir-akhir ini. Farel udah mati atau belom, yah? Pikir Lisa. Saat dalam perjalanan menuju halte, Lisa ingin banget rasanya pergi ke taman untuk menenangkan diri. Lisa akhirnya melangkahkan kaki menuju taman. Lisa duduk dibangku taman itu sendirian sambil berpikir dimana Farel sekarang...
“Gue mau bantuin elo, Rel! Akhirnya, gue kangen juga kalo nggak ada elo,” ucap Lisa lirih. Dia tidak menyadari kalau dari tadi ada seorang laki-laki yang duduk disebelahnya. Cowok itu tersenyum.
“Gue juga kangen elo, Lis!” seru cowok itu. Mata Lisa berkaca-kaca. Sosok orang yang sangat ia rindukan kini berada disampingnya.
“Farel, gue kangen sama lo. Elo kemana aja?”
Cowok itu nggak menjawab. Tapi, cowok itu tersenyum. Lalu,menghilang...
"Farel, Rel.. jangan tinggalin gue, Rel..!!"
10

100 Days With You (part10)

“La, elo pernah denger nggak ada orang koma, terus roh nya itu kelepas dari tubuhnya. Terus, dia disuruh menjalankan sebuah ujian. Tapi, dia sendiri nggak tau ujiannya itu apa,” kata Lisa saat dia sedang berada dikantin sekolah bersama Lala.
“Elo ngiggau, yah?” tanya Lala heran. Cewek itu meaikkan alisnya tanda heran kepada sahabatnya. Lisa menggeleng.
“Lo pernah denger nggak?” Lisa mengulangi pertanyaan nya.
“Gue belum pernah denger, tuh. Mungkin aja ada!”
“Oh..” Lisa menyetop pembicaraan. Dia kembali meminum ek kelapanya.
“Emangnya kenapa, Lis?” tanya Lala yang heran melihat sikap sahabatnya itu.
“Ah, ngng... nggak papa, kok!” jawab Lisa boong. Lala mempercayainya.
“Kalau gitu gue cabut dulu. Mau pulang,” pamit Lala. Lisa tersenyum dan melambaikan tangannya.
***
Lisa melangkahkan kaki menuju halte bus seperti biasanya. Dia memikirkan Farel akhir-akhir ini. Farel udah mati atau belom, yah? Pikir Lisa. Saat dalam perjalanan menuju halte, Lisa ingin banget rasanya pergi ke taman untuk menenangkan diri. Lisa akhirnya melangkahkan kaki menuju taman. Lisa duduk dibangku taman itu sendirian sambil berpikir dimana Farel sekarang...
“Gue mau bantuin elo, Rel! Akhirnya, gue kangen juga kalo nggak ada elo,” ucap Lisa lirih. Dia tidak menyadari kalau dari tadi ada seorang laki-laki yang duduk disebelahnya. Cowok itu tersenyum.
“Gue juga kangen elo, Lis!” seru cowok itu. Mata Lisa berkaca-kaca. Sosok orang yang sangat ia rindukan kini berada disampingnya.
“Farel, gue kangen sama lo. Elo kemana aja?”
Cowok itu nggak menjawab. Tapi, cowok itu tersenyum. Lalu,menghilang...
10

100 Days With You (part9)

Setelah menghilangkan rasa penatnya, Lisa menyudahi olahraga paginya itu. Lisa meninggalkan tempat itu. Lisa melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Pemandangan di jogging track memang bagus banget. Kayak suasana di pedesaan. Suasananya masih alami.
Lisa membuka pagar rumahnya. Cewek itu menuju kamar kesayangannya. Dia membantingkan tubuhnya dikasur.
“Pegelnya badan gue!” keluh Lisa.
“Elo nggak mandi dulu?” tanya sebuah suara.
“Bukan urusan elo, Rel!” jawab Lisa sewot.
“Lis, gue mohon banget sama elo. Elo bantuin gue untuk hidup. Waktu gue udah berkurang tiga hari. Sisanya tinggal hmm... 97 hari lagi. Gue mohon banget.” pinta Farel dengan nada memohon.
“Mau elo mati, mau elo sembuh, gue nggak peduli. Itu sih, emang takdir lo kali untuk mati.” jawab Lisa ketus. Farel terdiam.
“Ya udah, thank’s, yah. Maaf udah ganggu elo selama tiga hari ini.”
Farel pergi. Lisa tetap terduduk di tempat tidur nya. Dia merasa bersalah karena nggak pernah care sama Farel. “Farel, maafin gue, yah..” ucap Lisa lirih.
Lisa keluar dari kamarnya menuju teras balkon. “Untuk apa, gue nagisin tuh orang. Dia bukan siapa-siapa gue, kan?” kata Lisa mencoba menenangkan diri. Lisa menatap halaman rumahnya yang luas dari atas balkon rumahnya. Dia menerawang jauh. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
TIGA

Akhirnya, Lisa benar-benar bebas dari Farel. Farel udah nggak pernah keliatan lagi batang hidungnya. Lisa tetap menjalani kehidupannya seperti biasa. Meskipun, dalam hatinya dia sedikit rindu sama Farel.
9

100 Days With You (part11)

“Dek..bangun, dek..” seorang ibu-ibu parubaya membangun Lisa dari tidurnya. Lisa menatap ibu itu. “Kamu tertidur, yah?” tanya ibu itu lembut.
“Eh, iya, Bu..”
“Kamu sendirian, aja?”
“Iya, Bu..”
Ibu tersenyum ke arah Lisa.
“Baru ditinggal pacarnya, yah?” goda ibu itu sambil tersenyum. Lisa tersipu malu.
“Saya nggak pernah punya pacar, Bu..” ucap Lisa curhat. Ibu itu tertawa. Di pikiran ibu itu, biasanya anak ABG yang sering sendirian itu, baru putus sama pacarnya.
“Kalau gitu, kamu mau ibu jodohkan sama anak ibu?” kata Ibu itu polos. Lisa terperanjat kaget. Busyeet.. ni ibu frontal banget.
“Hah? Serius tuh, Bu?” tanya Lisa. Ibu itu mengangkat bahunya. “Saya pikir serius, Bu..”. Ibu itu tersenyum.
“Kamu mau beneran?”
“Nggak mau, Bu. Just kidding and just for laugh. But, ibu nggak ketawa..” kata Lisa pura-pura sedih. Ibu itu duduk disamping Lisa. Dia menatap ke arah langit. Ibu itu terlihat sedang menerawang jauh.
“Ibu punya anak cowok. Umurnya sepantaran kamu. Dia baik, rajin, pintar, juga manis. Tapi, udah tiga puluh tiga hari ini, dia nggak bangun-bangun...” ibu itu tidak melanjutkan ceritanya. Ibu itu, mulai mengeluarkan air matanya. Pasti anaknya, baru meninggal. Pikir Lisa. “Dia nggak bangun karena dia lagi koma di rumah sakit. Para dokter pesimis dia akan bisa sadar kembali. Ibu membayangkan, kalau dia sadar nanti, dia akan makan makanan kesukaan dia dengan lahapnya, dia bisa ketawa lagi,” ibu itu tidak bisa lagi melanjtkan.
What’s? Korban kecelakaan? Koma? Tiga puluh tiga hari? Farel banget. Jangan-jangan ini Mamahnya Farel. Atau.. tantenya? Atau pacarnya?
“Ngng.. maaf, kalau boleh saya tau, nama anak ibu siapa?”
11

100 Days With You (part8)

Diluar masih sangat gelap. Tapi, seorang cewek sudah terbangun dari tidurnya. Dia sudah tampak rapih. Cewek itu mengenakan T-shirt berwarna merah bertuliskan “Good Morning”, dan celana panjang training berwarna merah. Cewek itu mengambil sebuah discman diatas meja belajarnya.
“Elo rajin banget. Masih jam setengan lima udah bangun.” sebuah suara mengacaukan hati Lisa. Lisa nggak menanggapinya. Dari pada suasana paginya yang damai terganggu oleh keributan kecil diantara mereka. Lisa segera pergi keluar dari dari kamarnya meninggalkan Farel sendirian.
Lisa melangkahkan kakinya menuju jogging track di perumahan rumahnya. Sebelum melakukan jogging, dia melakukan beberapa pemanasan ala dirinya. Setelah pemanasan kilat ala dirinya, dia memulai lari paginya itu. Walaupun masih pagi buta, sudah banyak orang yang datang ke situ. Mulai dari anak-anak, orang tua, sampai kakek- nenek pun ada.
“Lisa!” suara orang memanggil. Lisa menengok ke sumber suara. Dilihatnya seorang cowok mengenakan jacket berwarna ungu. Tapi, kali ini bukan Farel. Melainkan...
“Eh, Rafa!” panggil Lisa. Rafa berlari menghampiri Lisa.
“Lo udah lama?” tanya Rafa. Lisa menggeleng.
Lisa dan Rafa melanjutkan lari pagi mereka.
“Elo udah belajar buat ulangan Bu Ria?” tanay Rafa.
“Emangnya ada?” tanya Lisa dengan tampang panik.
“Pelajarin halaman 140 sampai 160!”
“Thank’s, yah Raf!” kata Lisa sambil tersenyum.
“Kalau gitu, gue cabut dulu, yah!” Rafa pergi meninggalkan Lisa sendirian.
Lisa kembali melanjutkan lari pagi nya itu. Beberapa menit kemudian, dia menemukan sebuah bangku taman yang kosong. Kebetulan banget. Saat itu, Lisa sudah capek. Lisa mengeluarkan botol minumya dari tas kecil miliknya.
8

Minggu, 18 Maret 2012

Tercipta Untukku (Chord guitar)

E B C#m
Menatap indahnya senyuman diwajahmu
F#m C# F#m B
Membuatku terdiam dan terpaku
E B C#m
Mengerti akan hadirnya cinta terindah
F#m C# F#m B
Saat kau peluk mesra tubuhku

F#m B
Banyak kata
E A
Yang tak mampu kuungkapkan
B
Kepada dirimu

reff:
E B
Aku ingin engkau slalu
C#m
Hadir dan temani aku
A
Disetiap langkah
G#m
Yang meyakiniku
F#m
Kau tercipta untukku
B E
Sepanjang hidupku


Musik : Am E Am B


E B
Aku ingin engkau slalu
C#m
Hadir dan temani aku
A
Disetiap langkah
G#m C#m
Yang meyakiniku
F#m B
Kau tercipta untukku

E B
Meski waktu akan mampu
C#m B
Memanggil seluruh ragaku
A
Ku ingin kau tau
G#m C#m
Ku slalu milikmu
F#m
Yang mencintaimu
B
Sepanjang hidupku

Selasa, 13 Maret 2012

100 Days With You (part7)

“Elo nggak malam mingguan? Lo nggak punya cowok, yah? Elo nggak laku, yah?” ledek Farel.
“Gue nggak punya pacar. Gue nggak pernah ngerasain apa yang namanya cinta. Gue belum mau mikirin soal cowok. Cinta apa itu cinta? Masih bocah aja, udah mikirin cinta. Nggak ada dalam kamus gue yang namanya cinta.” Kata Lisa curhat. Farel terkekeh mendengar curhatan Lisa.
“Curhat nih,ye...” ledek Farel. Lisa nggak peduli dengan ledekkan Farel. Dia melanjutkan permaianan gitarnya. Dia melantunkan sebuah lagu. Lagunya Acha ft. Irwansyah “Ada Cinta” judul lagu tersebut.
“Mengapa berat ungkapkan cinta, padahal ia ada.. dalam rinai hujan, dalam terang bulan, juga dalam sedu.. sedan.. mengapa sulit mengaku cinta, padahal ia terasa.. dalam rindu dendam.. hening malam, cinta.. terasa ada..”
Farel tersenyum mendengar Lisa menyanyi. “Suara lo boleh juga,”. Lisa hanya tersenyum tanda terima kasih. Sesaat kemudian, Farel ikut bernyanyi menyanyikan lagu tersebut.
“Nyanyikanlah kasih.. senandung kata hatimu.. sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini.. sebab ku meragu pada dirimu..”
Lisa tersenyum. Farel keren juga kalau lagi nyanyi. “Suara lo boleh juga!” puji Lisa. Farel membalas tersenyum. Wiidiih, keren juga nih cowok kalo lagi senyum. Pikir Lisa. Lisa meletakkan gitarnya.
“Udahan mainnya?” tanya Farel lembut. Lisa mengangguk.
“Gue capek. Gue mau tidur dulu,” kata Lisa sambil ngeloyor pergi meninggalkan Farel sendirian di balkon. Tatapan Farel menerawang jauh.
“Lis, gue bisa minta bantuan elo nggak?” tanya Farel pelan. Nggak ada jawaban dari Lisa. “Elo udah tidur,yah.. good night. Have a nice dream..” ucap Farel lalu pergi. Lisa sebenarnya belum tidur. Dia hanya berpura-pura agar Farel pergi. Tapi, saat Farel pergi, entah mengapa matanya berkaca-kaca. “Perasaan apa lagi ini?” gumam Lisa pelan.
7